Abi Jali | Juru kunci seumileuk, Disinilah Gampong kuno suku Mante dan se ekor Naga yang pernah saya lihat

Ketika sebuah komunitas motor trail melintasi hutan di pedalaman Aceh Besar, tak sengaja kamera mereka menangkap orang kerdil (dwarf) yang berlarian kencang menjauhi mereka. Pengendara motor ini pun mengejar, tapi orang kerdil itu tidak kunjung ditemukan selain sebuah tongkat kayu yang tadi sempat digenggamnya saat menghindar. Video ini pun viral dan sangat misterius. Sebagian orang menyangsikannya, justru menganggap video itu polesan, tapi sebagian besar meyakini video itu asli. Menurut pakar video (animator dan penggarap video-video Aceh) Teuku Abdul Malik, video tersebut orisinil dan bukan editan. Sang pengunggah video (akun Youtube Fredography)  itu pun berkelit habis dari kejaran wartawan. Dia bungkam seribu bahasa. Dalam sebuah komentar sosmed dia berujar, jangan ganggu mereka. Mereka makhluk Tuhan juga yang berhak hidup seperti kita. Jadi, video itu masih menjadi sebuah misteri hingga saat ini. Kesimpulannya, manusia kerdil yang tertangkap kamera itu diyakini sebagai orang Mante, cikal-bakal suku Aceh yang paling awal mendiami Aceh Lhee Sagoe. Perkampungan mereka berada di Seumileuk, pegunungan antara Jantho Kab. Aceh Besar dengan Tangse Kab. Pidie.

Abi Jali

Sedikit memutar masalah endatu moyang Aceh, bangsa Aceh termasuk ke dalam lingkungan rumpun bangsa Melayu, yaitu bangsa-bangsa: Mante (Bante), Lanun, Sakai, Jakun, Semang (orang laut), Senui dan lain-lain yang berasal dari negeri Perak dan Pahang dari tanah semenanjung Melaka. Kesemua bangsa ini menurut ethnology ada hubungannya dengan bangsa Phonesia di Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga.

Para petualang penyuka alam dan sejarah, sangat tertarik mengunjungi Seumileuk. Biasanya ekspedisi yang dilakukan lewat Gampong Neubok Badeuk, Tangse atau ada juga yang memilih dari arah Jantho atau Seulimuem. Menurut cerita para pawang glé (pemburu), mereka juga mencari rusa dan ikan di Seumileuk. Pawang hutan ini akan mendapat hasil yang menggiurkan karena Seumileuk adalah syurganya para pemburu. Tentu saja bukan isapan jempol mengingat Seumileuk adalah kampung kuno suku Mante yang sangat luas dan potensial. Dataran Seumileuk yang dikelilingi sungai berair deras akan membikin mata tak berkedip (tonton videonya). Di padang sabana inilah kawanan rusa merumput. Sabana ini dikelilingi oleh gunung-gunung cantik yang akan menjadi obat pelepas lelah setelah berhari-hari melakukan ekspedisi jalan setapak. Di sana masih bisa ditemukan bekas kampung warga Seumileuk, masih ada perdu bambu, pemakaman, atau bekas pertapakan rumah yang kini menjadi hutan ilalang seketiak orang dewasa.
Generasi terakhir yang pernah menetap di kampung kuno ini adalah Abi Jali, warga Neubok Badeuk, Tangse. Beliau seakan menjadi pemegang kunci kampung Seumileuk sehingga para adventurer biasanya akan menghubunginya untuk menjadi guide ke Seumileuk. Sayangnya di usianya yangbertambah  lanjut, Abi Jali sudah tidak mungkin lagi menuntun kita ke sana. Beliau akan menyuruh anak atau saudaranya untuk menemani perjalanan semingguan ke Seumileuk. Tentu suasananya berbeda karena beliau adalah pelaku sejarah itu sendiri.
Orang tua sederhana yang di waktu mudanya pernah berburu badak Sumatra ini punya cukup jam terbang untuk mengantarkan kita bernostalgia ke Seumileuk. Beliau juga pemegang kunci gua-gua raksasa di Seumileuk. Gua-gua curam ini memiliki mulut yang tak terlalu besar dan harus dituruni dengan menggunakan tambang atau tangga yang dibuat darurat. Kedalamannya mencapai 15 meter atau lebih. Bahkan disebut-sebut ada seorang warga yang terjatuh dari mulut gua di sana, tapi jasadnya tidak ditemukan sampai sekarang.
Abi Jali juga punya pengalaman yang seumur hidup akan beliau kenang. Saat itu beliau bersama kedua temannya menyusuri sebuah gua. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan gemerisik binatang raksasa yang menghadang mereka. Dia yang berjalan paling depan sudah terlanjur melewatinya sehingga tidak mungkin berbalik atau berlari, sementara kedua temannya sudah lari tunggang-langgang. Binatang berkaki dan bersisik itu membuka mulutnya lebar-lebar, menampakkan taring runcing nan tajam yang seukuran pedang. Abi Jali yang pasrah hanya mematung di tempatnya sambil membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Lama ia di sana, bergeming seraya memohon perlindungan dari Sang Pencipta. Entah bagaimana binatang yang diakuinya sebagai naga itu berubah ujud menjadi batu dan tidak bergerak-gerak lagi. Abi Jali memastikannya dengan sinar senter di tangannya (senter ini masih ia simpan). Bola mata si naga yang tadi merah menyala menatap kepadanya kini membeku dalam ujud batu. Kaki, ekor, sisik dan semuanya menjadi batu. Di ekornya ada semacam altar batu. Begitu juga di sekitarnya ada bermacam benda dan hiasan kuno terbuat dari emas. Menurutnya ia memeriksa naga batu itu sedetilnya, termasuk mengukur kaki binatang yang ada dalam dongeng itu, bahkan sempat memanjat kepalanya yang bersisik serta masih mengingat setiap detil tempat itu.
“Meunyo neutamong lam guha nyan, ureung droen pih neutumee kalon naga nyang lon peugah nyoe, kon dongeng,”katanya sangat serius. Mungkin beliau menganggap ceritanya sedikit konyol dengan zaman kekinian, tapi beliau bersikeras naga itu masih ada dalam gua itu di Seumileuk. Hal ini mungkin saja, karena gua di sana adalah gua kuno yang dihuni para suku Mante. Di dalamnya juga ada sungai dan ikan-ikan, bahkan diyakini juga kuburan-kuburan. Kawanan walet juga gemar bikin sarang di sana. Belum ada yang menaklukkan gua-gua tersebut serta memecahkan teka-teki yang mengganjal di hati banyak orang. Mungkinkah Abi Jali sedang memasuki sebuah alam kuno gaib di kala mengalami kejadian ini? Wallahu a’lam! Yang patut dicatat, seorang pawang gle adalah orang-orang yang bersinergi dengan alam raya. Mereka bisa berinteraksi secara batin dengan bermacam binatang sehingga binatang-binatang liar ini jinak. Pawang senior seperti Abi Jali ini sangat realistis dan pemberani, tidak terjebak dalam mistis.
Suku Mante Seumileuk ini dulunya hidup membaur dalam masyarakat Aceh, tapi karena keadaan perpolitikan Aceh yang tak menentu pada masa sultan terakhir, Sultan Muhammad Daud Syah yang terpaksa menyerah pada Belanda, orang Mante pun menghilang dari peradaban. Mereka hidup menyendiri dan primitif sampai sekarang. Tapi tahukah Anda ada warga Tangse yang keturunan langsung orang Mante? Warga tersebut masih hidup sampai sekarang serta memiliki kemiripan fisik dengan manusia ubeut itu. Sayangnya Abi Jali tidak mau berbuka lebih jauh tentang isu menarik ini. Antara beliau dan si pengunggah video memiliki kesamaan sikap untuk tutup mulut tentang orang Mante. Mungkin kita pun harus bersikap demikian.

Kamus Aceh:
Meunyo neutamong lam guha nyan, ureung droen pih neutumee kalon naga nyang lon peugah nyoe, kon dongeng (Kalau Anda masuk gua itu Anda pun akan melihat naga yang saya maksudkan, bukan isapan jempol)

Sumber seramvi qalam

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan